POLITIK ITU PERSEPSI, BUNG!

Oleh H. Ison Basyuni  
Ketua Lembaga Pendidikan dan Latihan (Diklat) DPP PPP (2011 – 2015)

Apa yang saya maksud dengan “Politik itu Persepsi” di sini  adalah bahwa berbagai pandangan, pendapat, serta sepak terjang para tokoh PPP selama ini akan membentuk persepsi politik seseorang tehadap apa – siapa – dan bagaimana PPP. Persepsi adalah proses seseorang dalam menyerap dan mengetahui sejumlah hal menegenai PPP melalui apa yang selama ini didengar, dilihat, dan diamati. Karena itu, bagaimana seseorang mempersepsikan tentang PPP, tentu saja  akan sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak dan berkualitas  informasi yang didapatkan mengenai PPP. Keterbatasan atau bahkan ketiadaan informasi yang diterima  akan membuat seseorang tidak mampu mempersepsikan tentang PPP secara benar dan lengkap.Di sinilah letak soalnya: Bahwa kelengkapan bangunan informasi mengenai PPP itu  —  tentu saja —  sangatlah ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas para elit  partai dalam mengomunikasikan dan menyebarserapkan gagasan-gagasan serta nilai-nilai partai ke tengah masyarakat luas, dalam menyuarakan dan mendesakkan kepentingan masyarakat, dan termasuk dalam bersikap dan perilaku di tengah pergaulan hidup  bermasyarakat.

Untuk itu, maka tidaklah berlebihan jika para elit partai dituntut untuk mampu  memahami dan menghayati benar berbagai seluk-beluk partai, visi – misi dan program perjuangan partai,  karena merekalah sesungguhnya sosok orang-orang  yang telah teruji dalam mengalami proses tempaan pergaulan berpartai;  dan bukan orang-orang baru yang sekonyong-konyong dimunculkan dari tempat lain dengan harapan dapat berperan banyak  seperti  “dukun tiban”. Elit partai adalah”etalase”partai yang menjadi cerminan partai di mana masyarakat dapat memberikan penilaian dan mempersepsikan tentang apa dan bagaimana  sesungguhnya partai itu. Mereka adalah para penggiat,  pengurus, serta anggota legislatif atau eksekutif dari partai bersangkutan baik di level daerah maupun pusat yang sangat berperan dalam  memberikan corak dan guidance ke a rah mana partai akan dibawa dan menjadi penentu atas  maju-mundurnya partai.

Analisis SWOT

Persepsi masyarakat terhadap partai ini penting kita  tangkap dan fahami agar selanjutnya kita mampu melakukan berbagai upaya  penataan dan pengembangan untuk merubah atau memperluas persepsi masyarakat  serta meningkatkan kinerja partai.  Karena itulah, saya kira, kenapa Ketua Umum DPP PPP —  Pak Suryadharma Ali dalam Pidato Pengarahannya pada Pleno I DPP PPP di sebuah hotel di Ancol, Jakarta,  21 Oktober lalu menegaskan mengenai pentingnya kita  dapat membuat  Analisis SWOT terhadap PPP. SWOT  adalah  suatu metodologi analisa yang dilakukan melalui cara memotret  dan mengupas  sisi-sisi S – Strengths (Kekuatan2 yang dimiliki), W – Weaknesses (Kelemahan2 yang ada), O – Opportunities (Peluang2yang dimungkinkan), dan T  –  Threats (Ancaman2 yang dihadapi) Partai Persatuan Pembangunan.

Pelaksanaan analisis SWOT tentu saja tidak cukup hanya melibatkan para elit partai baik di tingkat pusat maupun wilayah/cabang, akan tetapi justru penting melibatkan berbagai kalangan secara berkelompok: pemilih pemula, kalangan pemuda, petani, ibu-ibu anggota majlis ta’lim, para ustadz, pedagang pasar, dan sebagainya. Pelibatan  berbagai unsur secara berkelompok ini penting agar pandangan-pandangan  atau persepsi masyarakat terhadap PPP yang kita jaring melalui pendekatan SWOT ini dapat kita peroleh secara lebih komprehensif. Dan, dari hasil SWOT inilah selanjutnya  diharapkan bisa  diolah menjadi  masukan untuk bahan perumusan program dan kegiatan pengembangan partai.

Kaderisasi  

Akan halnya kaderisasi, menurut hemat saya, pasti semua fihak sepakat bahwa kaderisasi merupakan program penting  yang tak bisa diabaikan oleh partai politik. Rumusan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1985 menyebutkan bahwa kader adalah orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting di partai. Sementara dalam Agendan dan Strategi Perjuangan PPP (Muktamar VII) ditegaskan bahwa “Kaderisasi dalam partai adalah salah satu aktivitas utama yang menandakan kelanjutan kehidupan partai”. …… “Tanpa kaderisasi, partai bagaikan organisme yang sulit untuk bernafas apalagi untuk berproduksi”.

Demikian strategisnya peran kader dalam partai, maka Pak Suryadharma Ali memberi “judul” Pidato Pengarahannya pada Pleno I  DPP PPP seperti tersebut di atas  adalah “Konsolidasi Menuju 12 Juta Kader 2014”. Bahwa salah satu langkah Pemenangan PPP dalam Pemilu 2014 adalah dengan menyiapkan Kader Pemberdayaan Desa sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) kali lipat dari jumlah TPS.  Tentu, ini merupakan tugas partai yang sangat menantang, yang  — tidak saja membutuhkan kejelasan peran dan koordinasi masing-masing pihak dari tingkat ranting sampai pusat  –  akan tetapi juga pengerahan sumberdaya yang sangat  besar !

Meskipun kita tengah menyiapkan kader dalam jumlah yang sangat besar,  hal penting lain yang tak bisa diabaikan adalah bagaimana pengembangan persepsi masyarakat terhadap PPP oleh para elit partai sebagaimana diuraikan di atas juga terus dilakukan. Termasuk dalam kaitan ini adalah bagaimana kita dapat merawat para kader dan tokoh PPP yang telah kita miliki, sehingga di satu sisi kita tidak hanya larut dalam kegiatan-kegiatan penyiapan kader baru, tapi di sisi lain luput dalam memberikan perhatian terhadap kader-kader yang lama yang barangkali persepsi mereka terhadap partai pun sudah berubah.

Be the first to start a conversation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: