PERMALUKAN KORUPTOR DI HADAPAN PUBLIK

Posted on November 29, 2011

0


Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD kembali menegaskan perlunya hukuman sosial terhadap koruptor. Dia menilai, hukuman secara pidana belum cukup membuat jera koruptor, karena sebagian besar koruptor masih mendapat status sosial yang tinggi di masyarakat. Latar belakang koruptor sebagai pejabat, mulai bupati, menteri, sampai anggota DPR, membuat posisi sosial mereka tetap tinggi di masyarakat meski sudah terbukti korupsi.

Secara ekstrem bahkan Mahfud menyarankan agar koruptor diletakkan di kebun yang mirip kebun binatang. “Saya usul agar koruptor jangan dibikin takut, tapi dipermalukan. Misalnya, dibuat kebun bagi koruptor,” kata Mahfud seusai acara Silaturahim Antikorupsi di Gedung Juang, Jakarta, Minggu (27/11/2011).

Mahfud mengatakan, perilaku korupsi tak bisa ditolerir. Pelaku korupsi yang digerakkan oleh nafsu tak ubahnya seperti hewan. Nah, para koruptor itu bisa diletakkan di kebun dan dipertontonkan kepada publik. Dengan cara ini mereka akan sangat malu. Dari sisi pencegahan, generasi muda bisa belajar agar tidak korupsi.

“Lebih baik daripada murid-murid disuruh melihat binatang setiap semester, setiap liburan, toh sama-sama binatang juga. Orang yang melakukan korupsi sebenarnya hatinya binatang. Di situ, di kebun koruptor ditunjukkan, ini lho tampang koruptor, yang dihukum 20 tahun, sekian tahun, tampilkan foto-fotonya,” usul Mahfud.

“Mungkin usulan ini agak lucu, namun harus dijajaki. Sebab, saya melihat upaya menghukum koruptor ini sepertinya tidak banyak gunanya. dHukumannya juga banyak yang ringan sehingga koruptor tak takut dan tidak malu,” ujarnya.

kabarbisnis.com/BP