TIDAK PERLU MENINGGALKAN ISLAM UNTUK BERDEMOKRASI

Posted on Desember 14, 2011

3


Acara syukuran renovasi gedung DPW PPP DKI Jakarta tanggal 26 November 2011 berlangsung meriah. Selain Ketua Umum DPP PPP beserta istri, hadir pula para alim ulama yang sudah cukup terkenal, antara lain KH. Ali bin Aburrahman Assegaf, Habib Idrus bin Alwi bin Djamalulail, KH. Syoderi dan KH. Yunus Sasi.

Dalam sambutannya, H. Lulung Lungguna, Ketua DPW PPP DKI Jakarta mengatakan bahwa DPW PPP DKI Jakarta telah menyiapkan langkah-langkah  untuk mendukung program  12 juta kader. Langkah tersebut antara lain mempersiapkan saksi  di TPS dan calon anggota legislatif. Pada bagian lain sambutannya, H. Lulung meminta perhatian semua kader PPP terhadap perubahan UUD 1945 mengenai kriteria Presiden yang sekarang telah diamandemen yakni tidak lagi memakai kata ‘orang Indonesia asli” tapi dirubah menjadi ‘warga negara Indonesia sejak kelahirannya’. Dengan demikian membuka peluang WNI keturunan bisa menjadi Presiden. “Bisa jadi 20 tahun yang akan datang negera ini dipimpin oleh non muslim,” ujarnya.  Lulung juga mengajak warga PPP untuk tidak termakan isu golput karena akan merugikan PPP.

Terkait dengan program 12 juta kader, Lulung telah menyiapkan program Napak Tilas yang akan dilaksanakan pada peringatan ulang tahun PPP ke-39 bulan Januari 2012. Acara tersebut akan mereview perjalanan sejarah PPP, khususnya PPP DKI Jakarta. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan doktrin semangat perjuangan para kader PPP dalam menghadapi Pemilu 2014.

Sementara itu, Suryadharma Ali (SDA), Ketua Umum DPP PPP,  dalam pidatonya mengatakan bahwa kantor yang bagus harus diiringi pula oleh kinerja yang bagus dengan mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan kebersamaan. Lebih jauh SDA mengatakan bahwa banyak pihak yang merasa senang bila kita (PPP) lemah, karena sekarang ini PPP adalah satu-satunya parpol yang menjadi benteng ummat Islam. “Jika sekarang PPP belum berkembang menjadi partai besar, itu bukan karena salah asasnya, bukan karena salah agamanya, tapi salah kita sendiri yang kurang serius mengurus partai,” kritiknya.

Lebih jauh SDA mengatakan bahwa tantangan ummat Islam ke depan luar biasa, oleh karena itu semua komponen harus bersatu, jika tidak, PPP tidak  akan ada lagi dalam percaturan politik nasional.

Berbicara soal demokrasi, SDA mengatakan bahwa demokrasi dalam Islam lebih baik dari yang lain. Islam mengutamakan prinsip musyawarah, tapi kebasan tetap dibuka, namun kebebasan itu tetap ada batasnya, karena kebebasan tanpa batas akan merusak tatanan yang ada dan akan menjauhkan masyarakat  dari cita-citanya.”Oleh karena itu kita tidak perlu mundur untuk berdemokrasi, kita tidak perlu menanggalkan Islam untuk berdemokrasi, demokrasi dapat berkembang dalam Islam,tegasnya.

SDA mengingatkan bahwa sekarang ini banyak pihak yang secara sistematik menyudutkan partai politik antara lain dengan mangatakan bahwa kader dari partai politik tidak professional. “Itu pandangan yang tidak bijak. Kader partai harus mengerti apa maksud dibalik itu. Apa maksud kalau partai berdasarkan Islam tidak akan berkembang. Kalau ada pandangan orang parpol tidak boleh memegang jabatan public, itu juga harus diwaspadai,” pesannya.

Ketua Umum DPP PPP itu juga mengingatkan fenomena hasil pemilu 2004 dimana ketika itu PPP DKI Jakarta dapat dua kursi DPR RI, sama dengan yang diperoleh PDS (Partai Damai Sejahtera). “Apakah ini artinya ummat Kristen di DKI Jakarta bertambah atau ahlussunah wal jama’ah yang menurun? Kita jawab pertanyaan itu dengan mengusung motto Rebut Kembali Jakarta, tapi kenyataannya pada Pemilu 2009 kita malah kehilangan satu kursi. Saya minta ini menjadi introspeksi dengan tetap memelihara semangat untuk terus berjuang,” tandasnya seraya meminta kesanggupan pengurus DPW PPP DKI Jakarta untuk merebut kursi DPR RI disetiap daerah pemilihan. Sekadar informasi, pada Pemilu tahun 2009, Prov. DKI Jakarta terbagi dalam 3 daerah pemilihan (dapil), yakni, dapil 1 (Jakarta Timur), dapil 2 (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan pemilih luar negeri) dan dapil 3 ( Jakarta Barat, Jakrta Utara dan Kepulauan Seribu).

Pada bagian lain SDA menyoroti masalah keberadaan saksi di TPS. Dikatakannya bahwa DKI Jakarta harusnya mempunyai saksi yang lengkap di setiap TPS karena tidak ada kendala transportasi  bila dibanding daerah lain. “Jangan sampai ada lagi saksi yang sudah diberikan uang transport tidak datang di TPS dan yang sudah datangpun jangan lagi tidak bisa memberikan laporan,” cetusnya. Untuk itu SDA minta agar rekrutmen saksi melalui program 12 juta kaperdes harus terlaksana dengan baik. “Kita lemah di TPS, padahal suara kita banyak, tapi karena kita tidak punya saksi maka suara kita dimaling orang,” imbuhnya. (fiq)

Sementara itu, dalam ceramah singkatnya, Habib Idrus Jamalulail meminta agar umat Islam bersatu seperti bersatunya kedua tangan, jangan seperti telinga yang tidak pernah bersatu. Adapun dalam rangka memenangi Pemilu 2014, habib meminta kepada kader PPP agar menunjukkan akhlakul karimah, berbuat kongkrit  untuk kemaslahatan ummat  dan -terpenting-  menyampaikan kepada masyarakat bahwa satu-satunya Menteri Agama yang berani membubarkan Ahmadiyah adalah menteri dari PPP.

Cermah pamungkas disampiakan oleh Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf  yang dengan singkat namun penuh makna mengatakan: “ Selama ada partai berlambang Ka’bah, jangan pilih partai lain. Silakan sampaikan kepada seluruh ummat Islam di Indonesia. Allah menjadi saksi ucapan saya ini. Itu yang disampaikan orang tua saya,“ ujarnya seraya kemudian menutup acara dengan do’a. (fiq)

Posted in: AKTIVITAS, PPP DAERAH