JARGON PPP KURANG BERNILAI SPIRIT

Posted on November 17, 2011

0


Samsul Ma'arif, S.Ag

Banyak masukan yang positif dan konstruktif yang diberikan Samsul Ma’arif, S.Ag, Ketua Fraksi PPP DPRD Kab. Bandung Selatan yang juga Sekretaris DPC PPP Kab. Bandung Barat ketiak diwawancarai Bina Persatuan di ruang kerjanya. Dari urusan menumbuhkan jiwamilitansi di kalangan kader hingga masalah jargon PPP yang dinilainya kurang memberikan semangat implementatif. Padahal PPP sebagai partai yang sarat pengalaman dituntut lebih sukses dalam Pemilu 2014 mendatang. Lebih jauh berikut kami sajikan hasil wawancara dengan Samsul Ma’arif.

Apa langkah taktis dan strategis yang perlu dilakukan PPP dalam menghadapi tantangan pemilu 2014 ?

Pertama, membangun spirit keteladanan. Kita paham bahwa muara dari proses dan aktifitas politik adalah kekuasaan. Kekuasaan ini bisa tersebar di ruang legislatif maupun di eksekutif. Saat ruang-ruang tersebut direngkuh, saat itu pula perengkuh disebut-sebut oleh masyarakat sebagai pemimpin. Pada saat yang sama, kekuasaan cenderung membawa perubahan gaya hidup. Termasuk yang sangat prinsip adalah nilai keteladanan. Ini harus selalu dikampanyekan, digelorakan, dan diingatkan agar kader yang sedang berkuasa tidak lupa dan tidak berubah gaya secara sporadis. Bahwa ada hal yang harus berubah, itu pasti, sepanjang ada dalam batas-batas kewajaran. Terkikisnya nilai keteladanan berakibat fatal. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan, fitnah tumbuh dimana-mana, konflik merebak,  dan partai dimana asal si perengkuh rusak citranya.

Kedua, menggelorakan spirit ideologi partai. Ideologi adalah jati diri. Ideologi adalah kompas. Ideologi adalah hakikat. Steakholder PPP harus menanamkan ideologi partai secara terus menerus agar kader senantiasa kuat dan militan. Uang adalah salah satu sarana untuk mempermudah pencapaian. Tapi jika uang menjadi kejaran utama maka itulah faham pragmatisme merasuk. Materi diperlukan untuk menjadi sarana bagi pencapaian sesuatu. Tapi jika sudah menganggap bahwa materi adalah sumber pencapaian, maka itulah faham materialisme. Kedua faham itu, dengan realitas yang ada, adalah beda-beda tipis alias rada sulit disisir. Karenanya, menanamkan ideologi PPP pada kader menjadi sangat urgen. Jika ini terus dilakukan, maka identitas PPP sebagai partai Islam akan berbeda nyata dengan PKB, PAN PKS misalnya. Sehingga, stigma masyarakat seperti, “Apa bedanya lah PPP dengan Partai lain…” akan lenyap. Bila ideologi PPP ditancapkan terus maka umat Islam akan semakin percaya dan akhirnya kepincut untuk memilih PPP sebagai satu-satu partai Islam. Maka sepertiga kesuksesan PPP di pemilu nanti sudah di saku.

Ketiga, sekarang kita melangkah pada tataran empiris. Selama ini PPP tidak punya usungan jargon kongkrit yang menasional dan sensasional. Maksudnya, isu-isu utama yang dilontarkan pusat sehingga itu menjadi spirit-implementatif di tingkat lokal, itu tidak ada. Maaf, Jargon “PPP Rumah Besar Umat Islam” itu sama sekali tidak mengandung tafsir dan spirit-implementatif. Ini lebih semacam lagu-lagu nostalgia “sweet memories”nya Rinto Harahap lah. Bagaimana kader di daerah menterjemahkan jargon itu dalam bentuk aktualisasi program? Bukankah fakta menunjukkan banyak pengurus teras partai yang gagal menjadi anggota legislatif? Apakah lagi-lagi “nasib” yang harus  dikambing hitamkan? Ini akan melebar pada persepsi masyarakat. Persoalan wibawa partai, masyarakat luar atau ABG yang masih netral alias belum punya hak pilih, bagaimana akan tertarik kepada PPP kalau sopir dan kondekturnya saja gagal sampai ke terminal. Apakah mau mereka menumpang kendaraan yang tidak sampai ke terminal? Belum lagi hal itu akan mengganggu relasi antara anggota dewan terpilih dengan pimpinan partai yang tidak terpilih menjadi anggota dewan. Ini juga akan menjadi beban dan biang konflik internal.

Bagaimana langkah taktis kang Samsul dalam membangun komunikasi dan hubungan sinergi dengan para alim ulama, tokoh masyarakat, pemuda, ormas, majelis ta’lim, yayasan atau dengan pembinaan masjid dan musholah ?

Saya kira, kader PPP harus terus membangun silaturrahim dengan simpul-simpul masyarakat seperti para kyai, ajengan, tokoh adat dan seterusnya. Kemudian setiap kader harus siap menjadi DKM atau Ta’mir Masjid bahkan harus mampu menjadi Khotib. Ada fenomena aneh, sekarang masjid-masjid “dikuasai” oleh orang dari partai lain. Ini akibat kader PPP sendiri yang ogah-ogahan mengurus masjid. Begitu pemilu, jamaah masjid tersebut tidak ada yang pilih PPP. Ini kasus sederhana tapi merata dimana-mana. Kalau sudah kalah, baru ribut belingsatan. Merebut posisi-posisi strategis di lembaga-lembaga masyarakat sperti KNPI, PMII, HMI, Karang Taruna sampai persatuan sepakbola antar kampung pun saya kira harus dilakukan. Kader PPP harus menjadi aktivis di masyarakat.

Sebagai pengurus DPC, kira-kira peran seperti apa yang akan dilakukan kang Samsul dalam mengkritisi kepedulian pengurus PPP disemua jajaran untuk menumbuhkembangkan simpatik yang besar dan punya rasa memiliki serta tanggungjawab pengembangan program konsolidasi agar PPP tetap bisa menjaga eksistensinya di tengah-tengah hegemoni partai besar dan sekuler ?

Sebelum mengkritisi yang lain kita harus otokritik dulu. Peran apa yang sudah kita kontribusikan kepada partai. Mengurus partai adalah mengurus orang dengan segala macam dan kepentingannya. Disana tempat bekerja sekaligus bersaing. Hindari saling menyalahkan. Tapi bekerja untuk partai harus diprioritaskan. Di partai, sering kita melakukan hal positif dan efeknya juga bagus di masyarakat, tetapi oleh sesama pengurus partai dicemburui bahkan disalahkan terus. Padahal, hal tersebut tidak juga dilakukan oleh pengurus itu. Celakanya, yang kita lakukan itu diomong kemana-mana, dibusukkan. Menghadapi persoalan ini, saya sering sampaikan filosofi “Biarlah orang sibuk membusukkan kita, tapi kita sibuk bekerja untuk Partai”.

PPP yang telah mengalami pasang surut kontelasi politik nasional juga selalu mengalami surutnya perolehan suara tiap pemilu. Bagaimana optimisme target suara pemilu 2014 nanti khusunya di Bandung Barat ?

Untuk tingkat lokal Bandung Barat saya optimis bisa meningkat hasilnya. Optimisme ini didasari dari tumbuhnya semangat para PAC dan respon masyarakat. Kemudian anggota legislatif kita genjot untuk terus terjun ke masyarakat tidak hanya saat reses. Dan ini giat dilakukan oleh para anggota legislatif di tiap-tiap dapil. Hal lain yang menjadikan optimisme saya adalah, adanya ghirrah yang luar biasa digelorakan oleh pengurus setingat di atas kami, yaitu DPW.

Kegairahan struktural ini sangat penting. Ketika DPC bergairah, pasti PAC juga semangat. Begitu seterusnya. Nah spirit kami, DPC Bandung Barat benar-benar dalam kondisi “on fire” karena itu tadi, ada semangat luar biasa dari DPW di bawah komando Rahmat Yasin. Semangat konsolidasi partai yang dibangun Rahmat Yasin sungguh mempesona dan luar biasa. Ini modal Jawa Barat. Saya sering katakan Rahmat Yasin itu Meteor. Ini menjadi modal untuk ditularkan ke bawah. Jujur saja, kalau ada sedikit kendala, itu pada proses konsolidasi internal DPC yang belum selesai pasca muscab. Kami sedang membenahi kondisi infra-struktur itu agar tidak mengganggu modal dasar tadi.

Bagaimana dengan harapan pada kepengurusan DPP PPP yang baru terbentuk ini, walau bagaimanapun pengurus pusat punya peran penting dalam parameter politik nasional dan dalam memberikan perhatian kapada DPW/DPC/PAC dan Ranting?

Pertama kami mengucapkan Selamat atas dilantiknya pengurus DPP. Kedua, sebagaimana harapan kami para DPC yang disampaikan pada saat Konferensi regional di Puncak, bahwa pengurus DPP hendaknya lebih rajin lagi turun ke DPW termasuk sekali-kali ke DPC untuk silaturahim dan membangun komunikasi. Ini kelemahan mendasar Ketua DPP dan Pengurusnya di periode lalu. Harapan berikutnya adalah pengurus DPP yang di Legislatif harus lebih sering tampil di media dengan gagasan-gagasan yang cerdas dan segar. Kemudian yang dieksekutif harus memberi implikasi positif bagi pengembangan partai. Meneteri Perumahan Rakyat, jujur saja, bukan hanya asing yang namanya Suharso Monoarfa, tapi juga asing sekali manfaatnya.

(BINA PERSATUAN)

Iklan
Posted in: PPP DAERAH