BIAS LAKI-LAKI DALAM PENAFSIRAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

Posted on November 18, 2011

0


Oleh: Chairunnisa Azis, S.Sos.I, M.Si.

Pembongkaran terhadap penafsiran yang cenderung mendiskreditkan perempuan adalah sesuatu yang niscaya karena perempuan bukanlah makhluk nomor dua yang keberadaannya hanya sekedar sebagai pelengkap kaum laki-laki. Itu sebabnya penulis mencoba mengupas tentang salah satu pemahaman ayat Al-qur’an yang sering di jadikan senjata bagi kalangan laki-laki dalam memperebutkan posisi-posisi tertentu. Meskipun pada zaman reformasi ini kaum laki-laki telah melonggarkan pemahamannya tentang keberadaan perempuan di berbagai bidang, khususnya bidang politik.

Persoalan yang menjadi isu sentral perdebatan di kalangan para feminis belakangan ini adalah konsep kepemimpinan rumah tangga. Mereka menggugat paham kepemimpinan suami isteri dalam rumah tangga yang selama ini sudah mapan di kalangan kaum muslimin. Bagi mereka, paham yang menempatkan suami sebagai pemimpin rumah tangga tidak sejalan, bahkan bertentangan dengan ide utama feminism, yaitu kesetaraan laki-laki dan perempuan. Sebagai konsekuensi logis dari konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan itu, maka dalam sebuah rumah tangga, kata mereka, status istri setara dengan status perempuan.

Menurut para penilaian feminis, rumah tangga yang memposisikan suami sebagai pemimpin terhadap isteri, sebagaimana yang telah diyakini oleh umat Islam umumnya, itu merupakan sebagai salah satu bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan yang berimplikasi kesewenangan laki-laki untuk berbuat semaunya terhadap perempuan. Sebagai salah satu wujud dari kesewenangan itu adalah pemukulan yang sering dilakukan suami terhadap istri , yang hal itu sering mendapatkan landasan teologis dari sumber ajaran Islam yang paling prinsip (Al-qur’an). Padahal menurut mereka, sebenarnya Al-qur’an tidaklah bermaksud demikian. Itu terjadi karena adanya penafsiran terhadap ayat-ayat tertentu yang bias laki-laki. Hal itu wajar dan tidak bisa dipungkiri, karena para mufassir tersebut adalah laki-laki yang tentunya memiliki kecenderungan tertentu demi kepentingan pribadi atau secara umum demi kelangsungan sistem masyarakat patriaki yang dominan dalam dunia Islam.

Ayat Al-qur’an yang sering dijadikan rujukan adalah surat An-nisa ayat 34 yang berbunyi:  

“ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahi sebagian dari harta mereka.”

At-Thabari dalam menafsirkan ar-rijalu qowwamuna ‘ala annisa’ menyatakan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan itu didasarkan atas refleksi pendidikannya serta kewajiban untuk memenuhi seluruh kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah. Hal ini pula yang menjadi sebab keutamaan laki-laki atas perempuan , seperti tercermin dalam kalimat wa bima anfaqu min amwalihim yang ditafsirkan sebagai kewajiban untuk membayar mahar, nafkah, dan kifayah.

Sedangkan dalam penafsiran Amina Wadud secara eksplisit  mengakui bahwa laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan, akan tetapi, kepemimpinan itu harus disertai dua syarat; jika laki-laki punya atau sanggup membuktikan kelebihannya dan kedua jika laki-laki mendukung perempuan dengan menggunakan harta bendanya. Kelebihan yang dimaksud di sini adalah karena laki-laki mendapatkan harta warisan dua kali lipat dibanding perempuan, dan karena itu berkewajiban memberi nafkah kepada perempuan. Jadi, Amina menegaskan adanya hubungan timbal balik antara hak istimewa yang diterima laki-laki dengan tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa terpenuhi kedua syarat tersebut maka laki-laki bukanlah pemimpin bagi perempuan.

Aminah mengkritik penafsiran para mufassir yang menafsirkan ayat di atas sebagai petunjuk kelebihan laki-laki atas perempuan. Mereka berpendapat bahwa laki-laki diciptakan Allah menjadi makhluk yang superior dibanding perempuan dalam kekuatan fisik dan akal. Penafsiran seperti itu, menurut Amina, tidak terjamin karena tidak ada rujukan dalam ayat tersebut bahwa laki-laki memiliki superioritas fisik dan intelektual, dan juga penafsiran seperti itu tidak konsisten dengan ajaran Islam lainnya. Maka tidak semua kaum laki-laki unggul atas kaum perempuan dalam segala hal. sebagian laki-laki memiliki kelebihan atas sebagian perempuan dalam hal-hal tertentu. Demikian pula sebaliknya, perempuan juga memiliki kelebihan atas laki-laki dalam hal-hal tertentu. Jadi, jika Allah telah menetapkan kelebihan sesuatu atas yang lainnya, itu tidak berarti maknanya absolute terus. Disamping itu, ayat tersebut juga bukan berarti menunjukkan kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan dalam segala aspek kehidupan. Dengan merujuk pada Sayyid Qutub, Amina mengatakan bahwa qiwamah di atas hanya berkaitan dengan urusan keluarga antara suami istri yang disokong materil. Hal itu berdasarkan pada ayat-ayat berikutnya yang menyinggung masalah perkawinan dan penggunaan istilah tersebut dalam konteks suami istri. Oleh karena itu, qiwamah di atas lebih cenderung digunakan dalam hubungan fungsional suami istri terhadap kebaikan kolektif antara keduanya sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan.

Jadi, kelebihan laki-laki atas perempuan yang karenanya laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan adalah tidak lepas dari tanggung jawab yang dipikul oleh keduanya, demi menjaga keseimbangan hidup dalam masyarakat. Maka berarti konteks tersebut tidak cocok jika dijadikan landasan utama untuk kepemimpinan laki-laki atas perempuan di bidang politik khususnya. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan dan hak yang sama dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya pada ranah domestik tetapi pada ranah publik juga. Dalam hal ini tidak ada alasan bagi kaum laki-laki untuk tidak memberikan peluang kepada perempuan di berbagai bidang kehidupan bahkan menjadi pemimpin dunia sekalipun.

Melalui pemahaman yang berbeda antara para mufassir dan mufassiroh menjadi pembuka cakrawala pemikiran kita tentang ayat-ayat Al-qur’an dengan metode yang berbeda pula. Semoga perbedaan yang ada menjadikan laki-laki dan perempuan dapat saling mengisi atas kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya tanpa harus mendeskreditkan salah satunya. Perlunya merekonstruksi penafsiran ayat-ayat Al-qur’an tentang perempuan. Perempuan dan laki-laki memang berbeda secara biologis, tetapi kita setara dihadapan Allah yang membedakan hanyalah ketaqwaan di mataNYA.

Posted in: ASPIRASI