ADA APA DENGAN AMERIKA?

Posted on November 25, 2011

0


Sejak bulan September, gelombang demonstrasi mulai melanda kota-kota di AS di bawah bendera ‘Occupy Wall Street’ (Duduki Wall Street). Para demonstran menyuarakan protes mereka kepadaWall Street yang mereka anggap sudah sangat rakus.

Dalam hitung-hitungan para demonstranitu, dari seluruh kekayaan AS, 40%-nya dikuasai oleh 1% saja, yaitu pengusaha-penguasaha elit. Sementara, 60% sisanya, harus dibagi-bagi di antara 99% rakyat AS. Itulah sebabnya, di antara spanduk-spanduk yang dibawa para demonstran banyak yang bertuliskan “We’re the 99%”. Mereka memrotes sistem kapitalisme yang memberikan peluang bagi 1% orang untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, dan membiarkan 99% orang lain hidup menderita.

Situs resmi OWS menyatakan bahwa gerakan mereka adalah tanpa pemimpin (leaderless) dan menggunakan taktik gerakan ‘musim semi Arab’ (Arab Spring).  Namun, ada pertanyaan krusial yang belum pernah dikemukakan oleh para penggagas  OWS, siapa sebenarnya yang mereka protes? Mereka menyebut kapitalisme dan Wall Street? Lalu apa itu kapitalisme? Ideologi-kah, atau ada ‘sosok manusia’-nya sehingga bisa digulingkan?

Tidak ada kesepakatan dalam mendefinisikan kapitalisme. Sebuah film dokumenter yang disutradarai Michael Moore, Capitalism, A Love Story dengan jenaka membuktikan bahwa orang-orang Wall Street sekalipun (pelaku proyek kapitalisme), kebingungan saat disuruh mendeskripsikan apa itu kapitalisme.  Secara umum, kapitalisme adalah sebuah sistem yang memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para pemilik modal (capital) untuk mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya. Dalam sistem kapitalisme, semua benda yang ada di alam ini berhak untuk dikuasai oleh manusia, selama dia punya uang (modal/capital). Contohnya, minyak yang ada di dalam perut bumi. Menurut para kapitalis, karena mereka yang punya uang dan teknologi untuk menyedot minyak itu, mereka pun berhak menguasai minyak itu dan menjualnya kepada masyarakat dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Dalam situasi seperti ini, tak heran bila ada konglomerat super-super kaya karena jualan minyak.

Sebaliknya, dalam pandangan ekonomi non-kapitalis, kekayaan alam seharusnya dikuasai oleh pemerintah dan harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama semua elemen masyarakat. Tentu saja, bukan berarti minyak itu harus dibagi-bagi sama rata ke semua orang; bukan berarti pula pemerintah berhak untuk berfoya-foya dengan minyak itu. Mekanisme yang adil penting untuk ditegakkan.

Dalam sistem kapitalisme,  ‘mekanisme yang adil’ ini sulit ditegakkan karena keadilan selalu dilihat dari seberapa banyak modal yang dimiliki. Seorang kapitalis (pemilik modal), akan dianggap ‘adil’ ketika mengeruk minyak dari perut bumi dan menjualnya.  Alasannya:karena dia punya modal, berhak dong dapat uang? Seorang pemilik pabrik dianggap ‘adil’ menggaji buruhnya hanya dengan Rp20.000 sehari, sementara dia bergelimang laba yang amat sangat besar. Logika kapitalisme: siapa suruh ga punya modal? Kemiskinan kalian itu adalah salah kalian sendiri!

Selain itu, para kapitalis ini, dengan uang raksasa yang dimilikinya, mampu mengupayakan agar orang-orang tertentu terpilih menjadi pemerintah. Misalnya saja, yang terjadi di ‘Embah’ kapitalisme dunia, AS. Setiap calon presiden harus memiliki uang yang sangat besar untuk kampanye. Obama  berhasil mengumpulkan 750 juta dollar dari para ‘donatur’, sehingga ia dengan leluasa beriklan di media massa, kampanye keliling AS, menggalang massa di jejaring sosial, dll. Bisa dibayangkan, orang-orang yang tak punya uang sulit bersaing dengan Obama. Hillary Clinton yang ‘hanya’ mampu mengumpulkan 230 juta dollar, akhirnya menyerah kalah, mundur dari kandidat kepresidenan dan bergabung dengan kubu Obama.

Ketika Obama menjadi presiden, krisis finansial memburuk. Perusahaan-perusahaan raksasa ambruk. Obama pun mengambil keputusan bahwa pemerintah akan menalangi kerugian perusahaan-perusahaan itu; yang sebagiannya adalah donatur kampanyenya.

Mari kita kembali kepada gerakan Occupy Wall Street (OWS). Tidak ada nama yang ‘dituntut’ oleh para demonstran itu. Mereka hanya berteriak-teriak memrotes kapitalisme dan Wall Street. Tapi, siapa itu Wall Street? Hakikinya Wall Street adalah sosok yang tak berbentuk, abstrak. Ada, tapi tak bisa didefinisikan siapa orangnya, atau bossnya, atau bahkan manajemennya. Bahkan kalau ada yang berusaha mendefinisikannya, pastilah akan segera menerima ejekan, “Senang amat sih, memakai teori konspirasi?!” Artinya, tidak ada pejabat yang hendak digulingkan oleh OWS.  Berbeda dengan ketika rakyat Mesir berdemo, mereka memang punya ‘nama’ untuk digulingkan, yaitu Hosni Mobarak.

Wall Street  adalah nama jalan di daerah Manhattan, New York. Banyak perusahaan pialang saham, bank, dan berbagai perusahaan finansial lain berkantor di Wall Street dan sekitarnya. Wall Street kemudian menjadi istilah yang sinonim dengan ‘kapitalisme’. Perusahaan-perusahaan yang berkantor di kawasan itu adalah perusahaan-perusahaan raksasa dan sangat kaya, sehingga mereka mampu memengaruhi dan mengontrol keuangan di AS dan dunia.

Pada tahun 2008, perusahaan-perusahaan besar di Wall Street bertumbangan akibat kerakusan dan kelicikan mereka sendiri dalam berbisnis. Tentu saja, para elit perusahaan tetap untung dan hidup mewah. Yang tumbang hanya pegawai-pegawai kecil yang kehilangan pekerjaan. Pemerintahan AS atas saran-saran para ekonomnya (yang ternyata juga bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu) memutuskan untuk mengucurkan ratusan milyar dolar untuk menalangi kerugian perusahaan-perusahaan itu. Yang menjadi korban sesungguhnya tentu saja rakyat AS kebanyakan: mereka bekerja keras mencari uang lalu membayar pajak; uang pajak itulah yang dipakai untuk menalangi Wall Street. Subsidi dan fasilitas kesejahteraan sosial rakyat AS pun dipangkas, karena uangnya habis untuk melindungi para kapitalis itu dari kerugian. Dari sisi keadilan, kebijakan talangan (bailout) ini sungguh absurd: bagaimana mungkin, ada pebisnis yang bangkrut akibat kesalahannya sendiri, lalu rakyat yang disuruh menalangi? Tapi inilah kapitalisme. Logika mereka: kalau pebisnis sampai hancur, rakyat juga yang akan menanggung akibatnya karena perekonomian mandek.

Di antara perusahaan di Wall Street yang mendapat kucuran dana talangan pemerintah AS adalah Citigroup, American Internation Group (AIG), Bank of America, Merril Lynch, Goldman Sachs, JP Morgan, Fannie Mae, Freddie Mac, dll. Dan tahukah Anda, sebagian besar perusahaan ini adalah penyumbang dana kampanye Obama! Sangat ‘wajar’ bila Obama tunduk pada para kapitalis itu.

Dan kini, ribuan orang duduk diam di depan gedung-gedung angkuh di Wall Street, menyuarakan protes mereka. Apa yang bisa diharapkan? Para eksekutif di Wall Street frustasi, malu, lalu mengundurkan diri? Kalaupun itu terjadi, dengan cepat, para pemilik modal akan mendapatkan gantinya. Tak heran bila banyak yang bertanya-tanya, mengapa Wall Street yang didemo? Mengapa bukan Gedung Putih?

Tentu saja, bila kita menggunakan konsep ‘emansipasi’ dari Teori Kritis, gelombang demo menentang kapitalisme oleh orang-orang AS jelas merupakan sebuah tahapan dalam proses counter-hegemony. Untuk melawan hegemoni kapitalisme,  manusia harusmenjalani proses ‘penyadaran’ (emansipasi), supaya akhirnya mereka mampu menciptakan masa depan mereka sendiri melalui kehendak dan kesadaran penuh. Gelombang demo ini, sedikit banyak akan membuat orang bertanya-tanya, apa yang salah dari sistem ini? Mengapa harus ada 99% yang hidup sengsara sementara 1%-nya dianggap  berhak berfoya-foya? Apa yang harus dilakukan untuk mengubah ini semua? Apa sistem alternatifnya?

Dari sisi ini, demo OWS mungkin bisa dilihat sebagai langkah awal dari munculnya gelombang kesadaran. Namun, berharap Wall Street bisa segera digulung, jelas amat jauh. Bahkan kalaupun Wall Street benar-benar bisa dibangkrutkan, so what? Yang akan menderita hanya rakyat kecil, sementara para kapitalis (pemodal), masih akan tetap bergelimang uang. Dengan kata lain, ‘kepala’ ular masih jauh untuk ditangkap. Sekarang ini OWS masih hanya dalam tahap membaui jejak si ular.

Dina Y. Sulaeman**alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

(sebagian isi tulisan ini disarikan dari buku Obama Revealed, karya Dina Y. Sulaeman, terbitan Aliya Publishing)

(IRIB/BP)