Haji Pahlawan

Posted on November 17, 2011

0


Ada dua peristiwa penting di bulan Nopember. Dua peristiwa yang memiliki kesamaan makna dan semangat dalam perjalanan kehidupan bangsa. Yang pertama adalah persitiwa keagamaan, yaitu Hari raya Idul Adha, atau sering disebut sebagai Hari Raya Qurban. Yang kedua adalah peristiwa kebangsaan yaitu peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 Nopember. 

Tentu saja kedua peristiwa ini bukan sekedar rutinitas tanpa makna, melainkan untuk mengingat perjuangan kemanusiaan dalam membangun kehidupan yang sesuai dengan amanat Tuhan.  Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini, mari kita mencoba merenungi proses manasik haji dengan memakai kaca mata kepahlawanan.

Pelaksanaan ibadah haji mengingatkan kita akan sebuah peristiwa besar, yaitu saat Nabi Ibrahim a.s. ingin menyembelih anaknya —Nabi Ismail a.s kecil— demi menjalankan perintah Allah Swt.

Kejadian tersebut diabadikan oleh Allah SWT, melalui firman-Nya:

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. Ash-Shofat [37]: 99-113)

Subhânallâh, kisah Nabi Ibrahim a.s. ini, mengajarkan kita tentang pahlawan mu’min sejati. Betapa tidak, lewat kejadian itu, Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan kepada kita tentang empat hal, yaitu: naluri kepahlawanan, keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.

Naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Sedangkan keberanian adalah batang yang menegakkannya. Adapun kesabaran adalah oksigen dan saripati yang menentukan seberapa lama keberanian itu hidup dan tumbuh berkembang. Selanjutnya, pengorbanan adalah buah yang bisa dipetik dan dimakan oleh banyak orang.

Karena pengorbanan itulah, seorang pahlawan selalu dikenang dan menjadi orang besar di pentas sejarah peradaban manusia. Betul, kata Sayyid Quthub, bahwa orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Sebaliknya, orang yang hidup bagi orang lain, akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

Semoga saja, para jamaah haji Indonesia yang tengah menapaktilasi sejarah kepahlawanan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, akan menjadi haji yang mabrur ketika pulang ke tanah air. Dan mereka akan tampil sebagai pahlawan-pahlawan kemanusiaan di tengah masyarakat Indonesia yang tengah berjuang mencari kembali karakteristiknya. Semoga…

(DW/BP)

Posted in: SOROTAN