ISLAM SEBAGAI RUH PERJUANGAN PPP, JANGAN DIDEGRADASI!

Posted on November 20, 2011

0


DRS.H. IRGAN CHAIRUL MACHFIZ

Pernah BINA Persatuan berkesempatan mewawancarai Drs. H. Irgan Choirul Machfidz menyangkut soal Islam sebagai asas Partai, pengaruh globalisasi, peran generasi muda, degradasi moral dan metodologi dakwah yang harus diubah. Berikut petikan hasil wawancara Taufiq Hidayat dari BINA Persatuan kepada Irgan Choirul Mahfidz.

Dengan kondisi Islam yang selalu tersudutkan, apa PPP akan tetap memakai asas Islam?

Kalau PPP mencoba menyesuaikan diri dengan tidak lagi berasas Islam, itu sama artinya dengan mengingkari jati diri, pengingakaran terhadap sikap politik kita selama ini. Ini harus di hindari. Kita tidak boleh kehilangan ruh, tidak boleh kehilangan semangat ketika orang mengatakan “Islam tidak menarik”, “Islam tidak populer”. Kedudukan Islam dalam PPP sebagai ruh, spirit, semangat, mengideologi, dan sebagai motivator dalam  perjuangan. Jangan di  degradasi!”

Yang diperjuangkan PPP bukan sekadar  meraih kekuasaan saja, tapi  bagaimana  mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan  bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini kita berjuang. Kalau kita ikutan-ikutan selera publik bahwa Islam tidak menarik, itu salah besar, keluar dari sikap politik yang selama ini kita tekuni.  Kita berjalan pada rel yang salah, sesat namanya itu. Bahkan mengingkari fatwa para ulama yang menginginkan PPP sebagai wadah perjuangan umat Islam.

Pengertian ‘Islam rahmatan lil’alamin”,  dalam konteks ke-PPP-an kongkritnya bagaimana?

Yang dimaksud dengan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah bahwa Islam memenuhi  semua aspek kehidupan, ekonomi, budaya, politik, hukum. lingkungan hidup, dan sebagaianya. Tidak sempit,  tapi Islam yang mengimplementasikan semua kehidupan.  Inklusif. Bukan Islam yang dilihat sebagai terorisme, radikalisme, atau gerakan sempalan, ajaran yang tidak benar. Kita harus menunjukan itu dengan tingkah laku perbuatan yang betul-betul Islami. Cara berpolitik kita juga harus dalam ukuran seperti itu. Tidak boleh bergeser dari platform. Terus terang ini sebagai outokritik juga,  karena terkadang ada anggota kita, kader kita, pengurus kita yang tidak berperilaku Islami. Hal ini berkontribusi terhadap orang yang tidak melirik PPP karena kelakuan di internal sendiri. Ini yang harus kita perbaiki. Kita ubah. Apa lagi dengan  politik transaksional yang justru berbanding terbalik dengan semangat membangun peradaban Islam di Indonesia. Sekulerisme, pragmatism, ini yang merendahkan.  Bagaimana kita ingin memperbaiki kehidupan diluar jika di dalam sendiri belum dilakukan konsolidai moral secara total  agar tetap pada koridor keIslaman.

Jangan Islam rahmatan lil alamin hanya jadi jargon kampanye, hanya dibibir saja tapi tidak berpengaruih terhadap prilaku. Ini  tidak konsisten, munafik, split personality. Orang yang mempunyai kepribadian terpecah, ketika mulutnya tidak sesuai dengan perbuatannya. Tidak ada konsistensi antrara ucapan dengan tindakan.  Orang orang seperti ini tidak pantas untuk menjadi pengurus dan kader Partai. Kalau Islam rahmatan lil’alamin cuma sekadar  jargon, itulah yang menyebabkan mengapa umat Islam tidak melirik PPP. Justru ini yang harus direkontruksi ulang, harus ditata ulang agar PPP sebagai satu-satunya partai Islam bisa berkompetisi dengan partai-partai lain dan  sebagai Partai yang berbeda. Disini bedanya, jika kita tetap konsisten. Jika Islam rahmatan lil alamin hanya euphimisme, penghalusan kata, retorika saja , ini yang tidak pas.

Upaya yang dilakukan PPP?

Perlu injeksi nilai-nilai pengkaderan di PPP.  Perlu dilakukan  konsolidasi internal secara total dari pusat sampai ke bawah agar semangat keislaman terinternalisasi ke dalam tubuh kader PPP.  Jika ghiroh itu tidak tumbuh, akan sulit kita berkompetisi. Tahun ‘77, dan ‘82 kita betul-betul  fight, bertarung. Saking semangatnya sampai ”mengafirkan” orang, jika tidak pilih PPP, kafir. Jihad fisabilillah. Itu romantisme perjuangan masa lalu. Kesadaran berpolitik keislaman inilah yangharus kita tanamkan.  Sayangnya suasana politik seperti ini sejak adanya reformasi dan Pilkada, pupus. Orang lebih memilih kepada siapa yang membayar lebih banyak. Orang tidak peduli apakah partai ini beraliran apa, partai itu beraliran apa, gak penting, Yang penting kontribusinya (money politik, red). PPP tidak boleh tergoda. PPP harus betul-betul confident menghadapi hal ini.  Kita harusnya mengatakan tidak pada politik uang, tidak boleh berkompromi terhadap hal-hal yang mendegradasi nilai-nilai keislaman kita, itu yang harus dilakukan. Juga terhadap isu-isu keislaman, seperti  masalah Ahmadiyah, tegas kita katakan harus bubar. NII adalah makar, idiologi yang menyimpang, tidak sesuai dengan semangat NKRI. Masa’ ada  ajaran yang membolehkan tidak patuh sama orang tua. Masa’ ada ajaran yang boleh merampok harta orang tua. Isu-isu keislaman jangan hanya menjadi slogan tapi harus terimplemantasi dalam semua aspek kehidupan  dan kepribadian kader. Ini yang harus diperbaiki, Jangan kita berfikir menang karena orang lain tidak baik, jangan menangnya karena orang lain, tapi karena kemampuan Partai kita sendiri melakukakan konsolidasi. Kita harus prepare mempersiapkan Partai ini, manajemen dan systemnya harus diperbaiki agar mampu menghadapi tantangan.

Proyeksi perolehan  suara Pemilu 2014?

Kita lihat dulu Wilayah-Wilayah, berapa target mereka, baru nanti secara rata-rata ada target nasional. Dulu kita berani pasang target tanpa minta masukan wilayah. Harus bisa 10%, agar lolos  PT (parliementary threshold)  dan bisa mengikuti Pemilu 2019. Kita tidak boleh pesimis. Kita harus panya target tinggi supaya ada semangat untuk mencapainya. Jika target rendah, akan rendah pula hasil yang didapat.

Sikap terhadap ulama dan tokoh yang kembali lagi ke PPP?

Kita perlu resources orang-orang baru untuk mendongkrak (perolehan suara) PPP.  Apalagi masyarakat sekarang berorientasi pada figure, tokoh.  Banyak partai punya tokoh, kita tidak punya tokoh.  Pada Pemilu 2009,  dari 77  dapil (daerah pemilihan, red), hanya di 36 dapil kita punya wakil.  Artinya,  kita tidak punya tokoh yang bisa diandalkan pada 41 dapil. Jadi, kita perlu serius, harus bisa menempatkan orang pada dapil yang kosong.  Memang terkadang di internal kita tidak siap juga menerima orang lain, ada resistensi, ada penolakan, itu tergantung kesiapan kita terhadap orang lain. Jika ada suasana keterbukaan, saya yakin teman-teman mau menerima asal kader (baru)  itu benar-benar bisa mendongkrak suara PPP, kalau hanya sekadar numpang lewat saja dan jika tidak terpilih balik lagi, ini kurang pas.

Bagaimana PPP memosisikan generasi muda, dalam kaitannya dengan OKP sebagai sayap  Partai?

Organisasi  pemuda sangat penting. Tidak akan bisa “terbang” Partai ini andai kata tidak ada sayapnya. Yang lekat dengan masyarakat adalah generasi muda. Kita (PPP) punya 4 organisasi sayap, GMPI, GPK, AMK dan GMII.  PPP harus mampu menjaring pemilih muda yang berjumlah 70 juta orang. PPP harusnya menggandeng organisasi muda itu, karena  untuk  kepentingan umat,  Partai dan bangsa harus berjalan paralel.  Programnya harus atraktif, menarik,  yang bisa menimbulkan simpati pemilih. Mereka butuh akses pendidikan, penguatan ekonomi, pengangguran, keterampilan, rekreatif, harus ada formulasinya.  Kita tidak pernah melakukan  pendidikan terhadap pemilih pemula; sekarang saatnya kita lakukan itu.

Sebagian kalangan menilai peran DPR selama ini mandul, sehingga banyak LSM, ormas pemuda dan mahasiswa turun ke jalan. Tanggapan Anda?

Saya mengapresiasi LSM.  Tapi yang membuat Undang-Undang  itu kan DPR berama Pemerintah. Ketika rapat, menteri yang mewakili Pemerintah kadang datang kadang tidak, ini memperlambat kerja kita. Ini bukan pembelaan, tapi memang perlu peningkatan kinerja DPR.

Bagaimana menyikapi dampak negatif globalisasi yang membawa paham sekularisme, kapitalisme, materialism?

Ini menjadi tugas seluruh komponen bangsa dan pemerintah. Saya melihat sudah ada degradasi moral dari bangsa ini. Untuk itu kita harus meningkatkan kualitas dakwah. Seperti khotbah jum’at, misalnya,  temanya harus mencerahkan dan memberikan solusi. Khotib harusnya bisa bicara juga soal teknologi, sains, lingkungan hidup, ekonomi, pendidikan  dan usaha peningkatan kesejahteraan social lainnya, jangan  bicara soal halal dan haram, dosa dan pahala melulu. Temanya kering dari persoalan kekinian yang dekat dan langsung menyentuh kebutuhan hidup mayarakat. Tema-tema yang selama ini disampaikan hanya masuk kuping kiri, ke luar kuping kanan yang membuat orang tertidur; tidak nempel. Khutbah Jum’at hanya sekadar rutinitas ceremonial. Tidak ada substansi, tidak ada hikmah. Ini harus diubah. Di Trenggano (Malayasia, red), khutbah Jum’at sudah pakai teknologi, pakai screen. Jadi berdakwahpun harus inovatif.

Ada pesan yang ingin disampaikan untuk anak bangsa?

Ada yang hilang dari bangsa ini. Saya tidak yakin semua anak  SD dan SMP  hafal Pancaila dan lagu-lagu kebangsaan. Semangat gotong royong  dan musywarah  mufakat sudah luntur, yang ada hanya sifat individulis dan menang-menangan. Itu yang hilang dari bangsa ini karena indoktrinasi kebangsaan lemah. Jadi saya  mengajak kepada generai muda dan semua komponen banga untuk kembali kepada jati diri bangsa ini yang religious dan nasionallis.

(fiq/BP)

Posted in: DPP PPP, SOSOK