KASUS NAZARUDDIN SANGAT “SESUATU”

Posted on Desember 6, 2011

0


Sidang perdana kasus suap Wisma Atlet dengan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin diharapkan bisa memberi jawaban atas teka teki silang yang kerap dipublikasikan media massa nasional.

Pasalnya kasus tersebut melibatkan petinggi partai yang berkuasa. Seperti yang kerap diocehkan oleh Nazaruddin, bahwa banyak elit Partai Demokrat terlibat dalam kasus tersebut, termasuk Ketua Umumnya Anas Urbaningrum dan juga Andi Mallarangeng.

Tapi publik seakan dibuat kecewa. Alih-alih memberikan jawaban yang selama ini ditunggu publik, justru pada sidang perdana Nazaruddin malah kisruh dengan perang kata-kata antara terdakwa, penasihat hukum, dan jaksa. Ini membuat sidang berlarut-larut. Padahal, jaksa penuntut umum kelar membacakan dakwaan.

Antara kecewa dan tidak. Kisruhnya sidang perdana Nazaruddin justru membawa mata publik melihat sisi lain dari rentetan kasus yang seakan kisruh ini. Kekisruhan dimulai ketika Nazaruddin diberi kesempatan oleh hakim untuk mengutarakan pendapatnya terhadap surat dakwaan. Nazar mengatakan, ia tak mengerti dakwaan terhadap dirinya.

Nazaruddin bebas berkelit bahwa selama proses penyidikan dirinya tidak pernah diklarifikasi soal kasus suap wisma atlet seperti yang selama ini dipahami publik sebagai perkara utama atas kasusnya. Nazaruddin mengaku, selama menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia hanya ditanyai seputar pelariannya ke luar negeri bukan soal Wisma Atlet.

Menanggapi tudingan kubu Nazar, jaksa penuntut umum mengatakan berkas kasus ini, termasuk seluruh berita acara pemeriksaan, telah diberikan kepada terdakwa. Mendengar penjelasan jaksa, kubu Nazar tetap berkukuh belum menerima salinan berkas. Salah seorang pengacara Nazaruddin, Hotma Sitompul  bahkan mengatakan bahwa yang mereka terima hanya BAP tersangka ketika dalam pelarian (BAP tertanggal 12 Oktober 2011).

Akhirnya Ketua Majelis Hakim, Darmawati Ningsih, pun menenangkan suasana kisruh sidang perdana Nazaruddin seraya menghimbau kepada kubu Nazar untuk menyampaikan nota keberatan serta pembuktiannya.

Yang menarik dari arena sidang itu adalah ketika  Nazaruddin mengakui bahwa sebelum pergi ke Singapura dirinya sempat bertemu dengan petinggi Partai Demokrat termasuk Ketua Dewan Pembinanya, SBY, di Cikeas. Seharusnya, kata Nazar, dirinya juga ditanya perihal pertemuan tersebut, bukan hanya menyangkut pelariannya ke Singapura. Nazaruddin pun menduga ada yang berusaha menutupi dan merekayasa kasusnya.

Para elit Partai Demokrat pun sontak mengklarifikasi apa yang dikatakan Nazaruddin tentang pertemuan di Cikeas. Menurut Amir Syamsudin, memang terjadi pertemuan pada 22 Mei. Materi pertemuan itu adalah mengusulkan pencopotan Nazaruddin dari posisinya sebagai Bendahara Umum di Partai Demokrat. Bukan lainnya.

Mungkin penjelasan Amir itu untuk meluruskan opini yang dikembangkan Nazaruddin, bahwa pada pertemuan itu Nazaruddin sengaja diperintah untuk pergi ke Singapura atas saran elit Partai Demokrat. Sebab setelah pertemuan itu esoknya Nazaruddin langsung “cabut” menuju Singapura. Entah benar atau tidak, tapi setidaknya pertemuan di Cikeas itu benar adanya.

Namun, dari adanya pengakuan Nazaruddin itu memang telah memunculkan pro dan kontra tersendiri, yakni perlu tidaknya SBY dihadirkan dalam sidang Tipikor dengan terdakwa Nazaruddin. Sebagai sebuah skenario, pengakuan itu bisa saja dimanfaatkan Nazaruddin, atau pihak lain yang memanfaatkan Nazaruddin, sebagai bola liar yang sengaja ditendang.

Kemungkinan pertama. Pengakuan adanya pertemuan itu merupakan skenario pihak Nazaruddin sendiri yang memang ditujukan untuk bargaining terkait kelanjutan proses pengadilan Tipikor. Artinya, jika memang terjadi pertemuan tersebut, setidaknya pihak Nazaruddin telah menembakkan satu peluru. Di mana, jika proses pengadilan tidak menguntungkan bagi Nazaruddin, maka akan ditembakkan peluru lain yang saling susul.

Jika benar, bahwa sejak awal memang telah terjadi proses bargaining Nazaruddin dengan Partai Demokrat, pengakuan Nazaruddin di Pengadilan Tipikor tersebut, bisa jadi merupakan bentuk kekecewaan Nazaruddin terkait deal-deal sebelumnya dengan Partai Demokrat.

Petinggi Partai Demokrat memang menyangkal adanya pertemuan Nazaruddin-SBY di Cikeas jelang kaburnya Nazaruddin ke Singapura. Dengan diplomatis ditegaskan bahwa tidak ada pertemuan Nazar-SBY. Yang benar, Nazar dipanggil Dewan Kehormatan Partai Demokrat.

Partai Demokrat boleh menyangkal, tetapi publik tentu tidak akan melupakan sinyalemen yang berkembang setelah Nazaruddin berada di Singapura. Ketika berada di Singapura, Nazaruddin ditemui sejumlah utusan SBY/Partai Demokrat. Dalam pertemuan ini ada kesepakatan rahasia, bahwa keamanan Nazaruddin dan keluarganya akan dijamin, dengan syarat, Nazaruddin tidak melibatkan nama SBY dan lingkungan dekatnya di Partai Demokrat bilamana proses persidangan kelak digelar.

Kemudian ketika diperiksa di KPK, Nazaruddin pernah mengungkapkan isu surat yang dialamatkan kepada SBY. Intinya, Nazaruddin tidak akan menceritakan apa pun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK, asalkan SBY berjanji akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi istri dan anak Nazaruddin.

Alhasil, kasus Nazaruddin ini memang menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Banyak asumsi yang bisa ditarik menjadi kesimpulan. Salah satunya adalah, benarkah memang telah terjadi deal-deal antara Nazaruddin dengan Partai Demokrat dengan tujuan menutupi “sesuatu” yang lebih besar lagi. Wallahu’alam.

Tim BP/DW/