PPP, PARTAI MEKANIK ATAU ORGANIK?

Posted on Desember 14, 2011

0


Oleh Taufiq Hidayat
Wakil Ketua Lembaga Penerbitan DPP PPP
Redaktur Pelaksana Media BINA Persatuan

Ketergantungan pada Pimpinan dan Dana Besar

Cara kerja partai mekanik adalah secara direktif, sebagai hasil dorongan dari atas; sedangkan cara kerja partai organic adalah setiap bagian diberbagai tingkatan saling sokong dan memfungsikan diri dengan dorongan dari dalam. Cara kerja partai mekanik ini sangat tergantung pada pimpinan di atas. Bila pimpinan tidak memberi instruksi, bila pimpinan tidak menyuruh-nyuruh, bila pimpinan tidak memberi aba-aba, maka para jajaran dibawahnya tetap diam tidak beregerak, tidak  kreatif dan dinamis, semua tergantung pada pimpinan di atas. Sedangkan  partai yang bekerja secara organic, setiap bagian akan saling mendorong dan masing-masing memfungsikan dirinya dengan dorongan dari dalam. Mereka punya motivasi tinggi, kreatif, inovatif  dan mobile. Mereka bisa menggerakkan dirinya sendiri sesuai dengan fungsi dan tugasnya, tanpa harus didorong dari luar. Mereka mengerti apa yang harus dilakukan tanpa menunggu perintah atasan.

Partai yang bekerja secara mekanik selalu mengandalkan pimpinan dan operator sebagai penggerak. Jika pimpinan tidak menyuplai ‘bahan bakar’  dan menyediakan operator maka semua orang yang berada dibawahnya tidak bisa bergerak. Semua pasif, semua hanya menunggu perintah, semua hanya bergerak jika ada yang menggerakkan. Sebaliknya, partai yang bersifat organic selalu tampak lebih mandiri, mereka mampu memobilisasi dirinya sendiri dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. Mereka tidak mengeluh dan tidak mencari-cari alasan untuk tidak berbuat karena keterbatasan sumber daya partai.

Karena selalu mengharapkan support dari atas, maka partai yang bekerja secara mekanik membutuhkan dana besar untuk dapat menggerakkan roda organisasinya, jika tidak, semuanya akan diam tidak bergerak bagai robot habis baterai.

Kerja Musiman

Partai mekanik bekerja secara musiman, dalam hal ini tentu musim Pemilu atau Pemilukada. Partai seperti ini tentu bukanlah sebuah partai yang ideal, karena sama sekali tidak memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Masyarakat diletakkan pada posisi objek bukan sebagai subjek. Masyarakat hanya didekati lima tahun sekali ketika partai itu membutuhkannya untuk meraih kekuasaan, setelah itu mereka ditinggal tanpa pembinaan. Partai yang bekerja secara organic adalah parai yang bekerja sepanjang tahun, mereka selalu bergerak dinamis sesuai kebutuhan. Mereka hadir ketika masyarakat membutuhkan advokasi, informasi dan aspirasi. Partai seperti ini selalu ada ditengah-tengah masyarakat; tidak elitis dan arogan.

Kampanye konvensional dan political marketing

Kampanye partai mekanik dilakukan secara konvensional, itu-itu saja, tidak ada pembaharuan, tidak kreatif, tidak inovatif dan monoton. Ibarat menonton film, orang sudah tahu bagaimana endingnya ketika baru melihat sepertiga bagian ceritanya. Kampanye tidak dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk diikuti. Materi kampanye juga hambar, bahkan mungkin basi. Juru kampanye tampil seadanya, tidak seperti sales marketing yang tampil sedemikian rupa sehingga menarik, meski produknya biasa saja.

Sebaliknya, partai politik yang bekerja secara organic melakukan kampanye dengan menggalang political marketing. Partai dengan cara kerja seperti ini memiliki banyak strategi untuk menguasai pasar (konstituen); mereka paham betul apa yang harus dilakukan, mulai dari memperkenalkan sampai membuat orang tertarik dan mau membelinya. Bagi partai politik, kampanye tidak cukup hanya membuat  orang mengenal saja, tapi juga harus membuat orang mau memilihnya.

Apakah PPP sudah termasuk sebagai partai dengan cara kerja organic? Jawaban yang muncul mungkin akan beragam, semua tergantung pada persepsi orang yang menilainya.

PPP – seperti Golkar dan PDIP – adalah partai yang boleh dibilang cukup senior dibanding dengan partai lain dan oleh karenanya PPP tentu sudah sangat dikenal masyarakat, akan tetapi realitas politik menyajikan fakta bahwa ternyata PPP masih kalah jauh, bahkan oleh partai pendatang baru sekalipun dalam hal keterpilihan (elektabilitas). Oleh karena itu banyak yang harus dibenahi; mulai dari SDM, kaderisasi, manajemen organisasi sampai political marketing.

                                   

 

Posted in: ASPIRASI