PPP JANGAN ELITIS

Posted on November 17, 2011

0


Sambutan hangat dan ramah mengawali pertemuan kami dengan H. M. Mardiono, Ketua DPW PPP Prov. Banten  di kediamannya yang asri di daerah Karawaci, Tanggerang. Team Media BinaPersatuan merasa perlu mewawancarai H. Mardiono karena  beliau adalah ketua DPW PPP dari sebuah privinsi yang dikenal sangat religious dan mempunyai budaya local yang kuat. Berikut ini hasil wawancara terebut kami sajikan untuk pembaca. Semoga bermanfaat. 

Mardiono

“Saya Bendahara PPP  waktu  dipimpin Dimiyati Natakusuma. Sebelumnya,  selama 15  tahun saya berada diluar struktur, tapi setiap event penting saya selalu terlibat dalam setiap kegiatan gerakan politik PPP,” demikian dikatakan H. MUHAMMAD MARDIONO, SE, Ketua DPW PPP Prov. Banten mengawali percakapannya dengan BinaPersatuan. “Jadi, saya masuk dalam struktur PPP karena permintaan teman-teman,” imbuhnya.

“Kemudian setelah Muswil, sebenarnya  saya juga sama sekali tidak berminat menjadi Ketua DPW, apalagi untuk memimpin partai yang masih kompleks, khususnya di Banten ini. Saya merasa belum memiliki kemampuan yang cukup untuk itu, tapi di floor waktu  Muswil itu, secara mendadak  teman-teman mengharuskan saya memimpin PPP, yaitu dengan cara voting. Pada saat voting itu, 90% suara memilih saya untuk memimipin Banten ini. Nah, kalau demikian halnya, ya saya terima, ini kan merupakan amanah, tapi bagi saya ini merupakan amanah yang berat untuk membenahi PPP di Prov. Banten ini,” papar Ketua DPW yang pernah menjadi Ketua HIPI  Banten selama lima tahun itu.

Menurut Ketua DPW PPP Banten yang juga seorang pengusaha ini, ia tidak pernah berhenti beraktifitas di organisasi profesi sebagai pengusaha dan selama itu dia tidak pernah masuk partai politik meskipun kekek neneknya tokoh PPP. Menurut Mardiono, ketika itu, belum waktunya bagi dia untuk terjun ke dunia politik sebelum belajar dan mengetahui seluk-beluknya.

“Tawaran dari parpol lain banyak, seperti PDIP dan lainnya.  Saya juga pernah diminta untuk memimpin Partai Demokrat di Banten, tapi ketika itu saya tidak berminat sama sekali untuk memipin parpol di wilayah Banten,” ujarnya. Adapun kemudian Mardiono bersedia memimipin PPP karena ini baginya merupakan amanah yang murni dari para kader PPP. “Karena ini amanah, maka insya Allah saya jalankan,” katanya. “Orang mungkin berpandangan bahwa memperebutkan kekuasaan itu memerlukan cost yang tinggi, tapi allhamdulillah saya tidak pakai itu. Padahal –mungkin- orang mengatakan karena saya seorang pengusaha nilai costnya akan tinggi, tapi justru sebaliknya, saya sama sekali tanpa cost malah didaulat oleh teman-teman pemilik suara itu untuk jadi ketua,” lanjutnya.

Berbicara mengenai program PPP untuk memenangi Pemilu 2014, Murdiono mengatakan bahwa yang pertama kali dilakukan adalah melakukan kajian atas kegagalan PPP selama ini, khususnya di Banten yang trendnya menurun sebagaimana penurunan suara PPP secara nasional. Menurutnya, penurunan suara PPP disebabkan karena, pertama, adanya konflik di tubuh internal PPP dan ke dua, karena kinerja pengurus yang hanya mengurusi pengurus. “Dan bahkan kita melahirkan pengurus yang minta diurus,” ujarnya seperti otokritik.

“Budaya ini akan saya rubah, akan saya bangun, bahwa setiap pengurus harus mengurusi umat. Umat harus menjadi bagian penting dari perjuangan PPP. Harus kita mulai bahwa seorang kader PPP  harus berbuat untuk umat, baik itu secara sosial, politik, maupun budaya. Itu yang menjadi kewajiban pengurus. PPP tidak boleh menjadi partai elitis karena basis PPP memang tidak ada disitu. Untuk itu saya akan mengurangi bahkan mengehentikan rapat di hotel dan sebaginya, saya kembalikan kalau rapat atau pertemauan di kantor, di rumah atau di pesantren. Kami berencana nanti rapat di pesantren bersma para santri dan kiyai,” ujar Ketua DPW PPP Banten yang pernah menjadi pengurus IKADIN Banten selama empat(4) periode itu.

Dengan programnya itu Mardiono bertekad untuk kembali meraih kejayaan PPP seperti era tahun 1977 dan 1982. Bersama seluruh jajarannya, Mardiono akan kembali mengunjungi pesantren-pesantren dan para alim ulama yang selama ini belum tersentuh atau sempat pindah ke partai lain.

“Alhamdulillah  pada saat Muswil yang dihadiri Pak SDA, ada 18 kiyai yang mendeklarasikan untuk kembali ke rumah besar umat Islam, bahkan saya katakan bahwa beliau-beliau itu dulu sebagai sesepuh kita tetapi mencoba untuk mengangkat anak asuh, nah kemudian setelah  mengetahui bahwa anak asuh itu tidak sebaik anak kita sendiri mereka sadar sepenuhnya maka kembali untuk  mengasuh anaknya sendiri,”  ujar Mardiono yang mencoba meyakinkan para kiyai dan ulama bahwa PPP adalah partai Islam yang lahir dari rahim tokoh-tokoh besar umat Islam.

Salah satu alasan yang dikemukakan untuk meyakinkan para kiyai adalah mengenai keberadaan Undang-Undang. “Saya sering kemukakan kepada para kiyai bahwa satu-satunya partai yang sekarang beraskan Islam itu PPP, yang lain nyaris sudah tidak lagi memperjuangkan kepentinghan Islam. UU pluralism, mislanya.”Apa yang terjadi nanti kalaiu UU pluralism itu lolos, mungkin akan banyak lagi nabi dan agama lain, apa tidak konflik di negeri ini?  Ini kita sampaikan ke para kiyai. Kemudian UU pornografi,  bagaimana kalau UU pornogrfi itu lolos? Kita akan melihat orang-orang yang tidak senonoh dijalanan dan itu kemudian diangap halal, apa nggak rusak umat ke depan ini? Satu-satunya partai yang terus gigih memperjuangkan itu secara politik ya PPP, yang nota bene adalah partai Islam,” urai Mardiono bersemangat.

Untuk mewujudkan tekadnya tersebut, Mardiono mencoba melakukan pendekatan kepada semua elemen masyarakat, termasuk dari para aktifis atau alumni kampus Al Khoiriyah di Cilegon yang telah melahirkan banyak dosen dan ustadz yang tersebar di berbagai daerah Banten. Untuk itu Mardiono mengharapkan dukungan moral dan power dari DPP PPP, karena, menurutnya, Banten ini termasuk berada di ring satu yang dekat dengan pusat pemerintahan.

“Di Banten saya akan coba untuk membangkitkan kemballi kejayaan PPP, tapi tentu tidakbisa sendiri harus ada kerjasama dengan DPP, Jawa Barat dan DKI karena memang wilayah ini satu rumpun. Saya juga akan membangun komunikasi,  baik secara politik maupun social dengan teman-teman di DPP, DKI dan Jawa Barat. Saya berpendapat bahwa Banten punya potensi soal agama, budaya dan politik yang tidak akan bisa dipisahkan dan ketika itu kita garap secara bersama tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Contohnya seperti di Bali. Di Bali ada umat yang paling monoritas di negeri ini, termasuk agamanya, penduduknya juga tidak terlalu banyak, tapi mereka mampu menyatakun antara budaya, agama dan politik. Di Bali itu di hari agama yang paling minoritas itu, di pulau yang kecil itu, dia bisa menutup bandar udara internasional selama 2 hari. Apa kekuatan yang dia pakai? Budaya, agama dan politik. Jika hanya budaya dan agama saja tanpa politik, dia akan habis,” papar Mardiono panjang lebar.

“Dan sekarang umat yang mayoritas ini bisa nggak? Saat ini tidak bisa kan? Kenapa?  Ya karena kita tidak mau menyatukan antara budaya, agama dan social politik. Di Bali kuat. Mereka punya tokoh yang dikagumi oleh grass root. Mereka punya pemimpin agama yang masih diikuti secara fanatic oleh pangikutnya. Sementara kiyai-kiyai kita “dirusak” oleh pemegang kekuasaan yang memiliki kepentingan untuk itu,” lanjut Mardiono masih dengan semangat tinggi.

Mengakhiri perbincangannya dengan BinaPersatuan, Mardiono menyampaikan pesan:  “Saya mengajak kepada seluruh kader PPP agar selalu berfikir positif, bahwa apa yang kita perbuat pasti akan kita dapat. Berbuatlah walau sekecil apapun. Kalau sekarang kita belum dapat hasilnya, anak cucu kita yang  dapat merasakan, itu sudah pasti. Tanamlah yang sebanyak-banyaknya, kalau urusan panen itu urusan Allah, tapi tanpa menanam lalu ingin panen itu pasti tanaman orang lain,”  ujarnya seperti berfilsafat.

(alf/fiq/BP)

Posted in: PPP DAERAH